-

seorang pendaki dan petualang adalah seorang yang sangat menghargai kehidupan untuk menemukan arti kehidupan yang sebenarnya.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Seorang petualang terbaik tak hanya orang yang selalu mencoba hal-hal baru, tapi dia juga orang yang tak pernah melupakan sejarah dirinya.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

"Hanya di ketinggian pegunungan saya dapat bahagia!"

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, May 15, 2013

Eksistensi Pecinta Alam Dilupakan Pemerintah


PECINTA ALAM, penjelajah gunung dan hutan, atau apapun namanya, adalah sebuah komunitas yang terbentuk dari sebuah kenyataan bahwa manusia dan alam adalah sebuah sinergi yang tidak dapat dipisahkan. Karena, manusia pada dasarnya memang memerlukan alam untuk berkembang, demikian pula sebaliknya, alam memerlukan manusia sebagai pemelihara dan pengguna yang bertanggung jawab. 

Bisa dikatakan, hubungan simbiotik mutualisme yang terbentuk di antara manusia dan alam adalah hukum tertinggi dalam konteks ekosistem. Paling tidak, pendapat di atas, adalah salah satu dari sekian alasan mengapa terbentuk organisasi pecinta alam. Sebuah organisasi yang mengajarkan mengenai hubungan “cinta” antara manusia dengan hutan dan gunung, sungai, laut, udara, dll., yang dikolaborasikan dengan pendidikan berjenjang melalui laboratorium kepemimpinan yang dimilikinya dan dalam aplikasinya dituangkan dalam bentuk yang beragam.
Baik melalui kegiatan petualangan, maupun bermacam kegiatan yang bermakna filosofis dan sistematis; yakni penanaman keyakinan dan penyamaan persepsi bagaimana membentuk jiwa-jiwa petualang yang selalu berupaya menempatkan dirinya pada posisi yang harmonis dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan sosial. Sehingga, harapan tertinggi dari semua itu tidak lain adalah kesadaran akan kebesaran Tuhan; betapa Tuhan tidak pernah sia-sia menciptakan alam semesta, dengan berbagai warna dan bentuk serta hubungan di antara penghuninya. http://www.kafe-relawan.com/artikel/15?mobile=1

LAHIR DARI GERAKAN KEPANDUAN
Pada awalnya (di era 60’an), organisasi pecinta alam di Indonesia lahir sebagai bentuk “pemberontakan” atas sistem kepanduan yang dipandang telah melenceng dari cita-cita sang pendiri gerakan kepanduang Sir Baden Powell (1857-1941). Baden Powell yang menciptakan kepanduan di Inggris itu, pada awalnya mengkombinasikan sistem disiplin militer dengan konsep berpetualang dalam organisasi kepanduan, dengan harapan membentuk kader-kader petualang yang memiliki disiplin tinggi, peka terhadap lingkungan sosial, tidak pantang menyerah, dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.
Sejak era 60’an (hingga saat ini pun cenderung tidak jauh berbeda), gerakan kepanduan di Indonesia dalam rangkaian aktivitasnya lebih condong kepada sistem kerja yang disibukkan dengan pola kepangkatan dan pendidikan berjenjang yang akhirnya melahirkan komunitas yang “terlena” bahwa hakikat kepanduan tidak sekedar berbicara masalah pangkat dan jabatan semata (yang dibuat sedemikian rupa layaknya organisasi militer).
Lalu salah satu “kesalahan fatal” lainnya dari gerakan kepanduan di Indonesia adalah di mana organisasi ini telah menjadi lahan politik; terkontiminasi melalui dana APBN dan APBD, campur tangan pemerintah, dan masuknya elit-elit politik ke dalam struktur kepanduan yang (maaf) mungkin sekedar memanfaatkan posisi strategis dan politis semata.
Alasan-alasan di atas, adalah sebuah gambaran munculnya “pemberontakan” komunitas kepanduan dengan membentuk “organsiasi kepanduan” yang baru; pecinta alam/penjelah gunung hutan. Organisasi ini dibentuk sebagai upaya melanjutkan cita-cita pendiri gerakan kepanduan dunia, dan tanpa menghilangkan beberapa konsep kepanduan di Indonesia yang masih relevan.
Karena, organisasi pecinta alam tidak mungkin meninggalkan pola disiplin dan nasionalisme yang memang diajarkan kepanduan dan menciptakan petualang itu memang harus melalui laboratorium kepemimpinan yang diterapkan secara sistematis. Dari mulai pendidikan dasar, pola pembinaan, masa pengembaraan, kursus-kursus kepemimpinan, petualangan, latihan-latihan, dll. Pada intinya, organisasi pecinta alam mencoba dan terus berupaya menyeimbangkan antara konsep berpetualang, nasionalisme, dan kepemimpinan (manajerial dan administrasi). 

PERAN PECINTA ALAM KEPADA BANGSA DAN NEGARA
Lalu apa sumbangsih pecinta alam kepada bangsa dan negara selama ini? Sekalipun pecinta alam relatif masih berumur muda dibanding organisasi Pramuka misalnya, atau Palang Merah Indonesia (PMI), sesungguhnya kontribusi pecinta alam cukup banyak. Dalam bidang konservasi misalnya, di era 80’an organisasi pecinta alam sering menjadi pelopor kegiatan-kegiatan penyelamatan hutan (reboisasi), sekalipun intensitasnya kini mulai berkurang. Atau kegiatan bersih sungai, kota, dll.
Bahkan di banyak wilayah hutan-gunung, banyak kelompok pecinta alam yang rela menjadi jagawana (penjaga hutan) tanpa bayaran dari mana pun, baik dari instansi pemerintah atau pun swasta. Hal itu mereka lakukan semata-mata dalam rangka rasa tanggung jawab mereka kepada alam. Pendapat ini mungkin terasa retorika, namun kenyataan di lapangan menunjukkan demikian.
Lalu di bidang sosial, kelompok pecinta alam juga menjadi kekuatan tersendiri. Contohnya dalam operasi-operasi SAR, baik di darat maupun laut. Demikian pula dalam penanganan-penaganan korban bencana alam. Dalam kegiatan-kegiatan ini, mereka bergerak atas inisiatif sendiri, tanpa dorongan dari manapun, dan atas biaya sendiri. Baik secara pribadi maupun organisasi.
Di bidang olahraga petualangan, kelompok pecinta alam juga bahkan sering mengharumkan nama bangsa. Baik dalam pendakian puncak-puncak tertinggi dunia maupun dalam kompetisi-kompetisi panjat dinding. Pemanjat dinding kita diperhitungkan oleh dunia internasional sebagai salah satu komunitas yang potensial (hal ini terbukti dari berbagai prestasi juara baik di tingkat Asia maupun Dunia yang telah ditorehkan sejumlah atlet yang notabene merupakan hasil godokan organisasi pecinta alam).

PEMERINTAH MENUTUP MATA?
Namun sayang, jika kita perhatikan selama ini, kelompok pecinta alam sebenarnya terkesan dianaktirikan oleh pemerintah. Tidak seperti halnya kepada Pramuka atau PMI misalnya, di mana dukungan pemerintah secara finansial pun sangat besar. Namun, bukan bantuan finansial yang sesungguhnya dibutuhkan pecinta alam dari pemerintah. Karena wujud perhatian itu bukan sekedar itu.
Mungkin pemerintah belum menyadari berbagai potensi dan kontribusi yang bisa dan telah dihasilkan pecinta alam kepada bangsa dan negara. Organisasi ini bukan sekedar komunitas petualang yang sekedar “naik-turun gunung”, namun di balik semua itu, kelompok pecinta alam menyimpan energi yang besar yang mampu mewarnai negara ini dengan segala kontribusinya.
Tetapi, persoalannya “pecinta alam yang tergeser” itu apakah sebagai akibat dari lemahnya perhatian pemerintah, atau komunitas pecinta alam itu sendiri yang mengekslusifkan dan menjauhkan diri dari keterlibatan pemerintah? Tampaknya keduanya benar.
Pemerintah tampaknya memang “lupa” jika pecinta alam itu menyimpan potensi yang sangat besar. Sementara komunitas pecinta alam itu sendiri, tampaknya terlalu asik dengan dirinya sendiri, merasa menjadi komunitas “bebas” bahkan bebas dari hubungan dengan pemerintah (bukankah hakikat pemerintah itu untuk mensejahterakan masyarakatnya, yang salah satu aplikasinya adalah dengan melakukan pembinaan kepada berbagai organisasi yang potensial? Lalu kenapa pecinta alam tidak memanfaatkan ini?).

Karakteristik dan Kepribadian Seorang Relawan


Karakteristik dan Kepribadian Seorang Relawan

Menjadi seorang relawan bencana adalah hal yang sangat mulia. Tidak semua orang mau terjun langsung dan memberikan bantuan kepada korban-korban yang membutuhkan. Uluran-uluran tangan relawan seakan menjadi penyelamat bagi mereka yang telah kehilangan harta benda bahkan nyawa. Tekanan batin para korban bencana beragam adanya.

Banyaknya perasaan yang mungkin muncul dari diri koran seharusnya menjadi catatan yang wajib diketahui oleh seorang relawan. Pasalnya, hal ini akan menjadi dasar dari perilaku yang harus dimunculkan oleh seorang relawan. Rata-rata relawan harus mampu menunjukan sikap keramahan, altruisme-empati, dan tentunya dengan perasaan yang tulus untuk membantu.

Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang atau kelompok orang yang berkeinginan untuk menjadi relawan menurut Smile Package Community (Shaleh, 2009) yaitu :
  1. Sehat lahir dan batin
  2. Menunjukan komitmen kepada tugasnya
  3. Bisa bekerjasama dalam tim
  4. Dapat berkomunikasi dengan baik


Menurut Rajagukguk, Sinaga & Effendi (Shaleh, 2009), pada dasarnya relawan dilingkupi oleh beberapa ciri khusus, yaitu:
  1. Melayani secara bebas dan sadar
  2. Melayani untuk kesejahteraan
  3. Dalam semangat kebersamaan
  4. Persaudaraan
  5. Tanpa mengharapkan balas dan jasa


Alasan untuk menjadi relawan adalah kompleks dan sering mengombinasikan altruisme dan kepentingan diri. Keinginan menolong orang lain dan mengekspresikan nilai-nilai yang dianut adalah alasan-alasan penting dibalik kesedian menjadi relawan. Kesempatan untuk mendapat keterampilan baru, bertemu orang baru, dan menambah pengalaman juga bisa menjadi alasan utama (Taylor, Peplau, & Sears dalam Shaleh, 2009)

Wednesday, March 27, 2013

Menyusun Rencana Pendakian

Menyusun Rencana Pendakian

Agar perjalanan di alam bebas dapat berjalan sesuai dengan rencana kita, ada beberapa hal yang perlu di lakukan seperti menentukan gunung mana yang akan di daki, mencari referensi tentang kondisi gunung tersebut.
  • Peta
  • Transportasi
  • Kondisi Geografis
  • Adat Istiadat
 Berikut ini intisari yang harus di peroleh:
1. Cari informasi
Cari referensi dan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi geografis di gunung yang akan kita daki. Bagaimana kondisi alamnya, kondisi cuaca serta ketersediaan air. Karena itu akan sangat berpengaruh pada perbekalan yang akan kita bawa.

Lebih di baik lagi apabila kita menghubungi, basecamp pandakian setempat untuk menanyakan kondisi terkini di daerah tersebut. Jangan sampai kita sudah jauh – jauh datang tapi gunungnya sedang ditutup.

2. Waktu Pendakian
penentuan waktu ang tepat sangat menentukan keberhasilan pendakian, terutama untuk menghindari bahaya - bahaya obyektif seperti hujan dan badai serta penyakit ketinggian dan ganguan dari binatang.

3. Membuat Anggaran Biaya
dalam menyusun kauangan, beberapa hal harus di perhitungkan, antara lain: alokasi dana atau perjalanan harus tepat dan masuk akal. buatlah anggaran yang terperinci untuk setiap bidang. pengeluaran dan pemasukanuang hanya berhak dilakukan oleh satu orang, misal bendahara atau pemimpin perjalanan.

4. Perizinan
siapkan kelengkapan surat - surat yang dibutuhkan tempatkan dalam tas tersendiri agar mudah diambil saat di perlukan.
setiap daerah mempunyai peraturan perijinan yang berbeda tergantung juga pada sifat kegiatan yang akan dilakukan, untuk penelitian atau petualangan.

5. Transportasi
lakukan survei transportasi apa yang paling efektif efisien untuk mencapai tujuan, sesuai dengan anggaran yang ada dan waktu yang di targetkan.

6. Perencanaan di lapangan
Atur barisan sedemikian dengan menaruh teman  yang  paling berpengalaman di depan dan belakang barisan. Jalan dengan langkah kecil dan hentakan ke tanah dengan pelan, agar tidak menerbangkan debu yang bisa mengganggu teman di belakang kita. Beristirahatlah secara proporsional, perhatikan kondisi teman yang sudah lemah. Kita harus saling bisa menjaga perasaan teman.

  • Paling depan : Leader bertugas untuk membuka jalan. Di utamakan untuk teman yang paling hafal medan
  • Paling Belakang Sweaper bertugas mengawasi keadaan temen. Memastikan tidak ada yang terpisah oleh sebab itu sweaper terus berada paling  belakang dan tidak boleh menyalip teman di depannya.
  • Untuk yang lainnya : posisi bebas, namun di usahakan bagi yang kondisinya mudah lelah untuk berada agak ke depan agar sewaktu – waktu ia istirahat mudah di awasi sehingga resiko tertinggal dari rombongan dapat di antisipasi.
Jangan terlalu memaksa untuk melanjutkan perjalanan bila terdapat teman yang mulai kelelahan. Lebih baik kita beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Bila perlu distribusikan perlengkapan yang dibawa dengan menyesuaikan kemampuan dari masing-masing personil.
Mendaki gunung bukan ajang untuk saling memperlihatkan kekuatan dan kemampuan fisik, tapi untuk melatih kerja sama dalam satu regu.
untuk lebih lengkap klik dan download disini

MATERI KEORGANISASIAN


MATERI KEORGANISASIAN

1.    Pengertian
       Organisasi adalah wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama,      kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya.
       Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masayarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya        belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).
Manajemen organisasi adalah strategi pengelolaan lembaga untuk mencapai tujuan organisasi yang efektif dan efesien.

Perilaku berorganisasi meliputi 3 ranah utama komponen yaitu :

·      Kognitif
·      Afektif
·      Psikomotor

Komponen Organisasi

Komponen penting organisasi meliputi :
Tujuan
Merupakan sesuatu yang akan di capai dalam rentang waktu tertentu, Tujuan berdasarkan rentang dan cakupanya dapat di bagi dala beberapa karakteristik antara lain :

·      Tujuan Jangka panjang
·      Tujuan Jangka menengah dan
·      Tujuan Jangka pendek
Struktur
Struktur Organisasi sangat penting untuk dapat dipahami oleh semua komponen dalam rangka menciptakan system kerja yang efektif dan efesien.
Sistem
Terbagi dalam komponen penyusun yang saling berikatan yaitu :
·      Input
·      Proses
·      Output
·      Feedback
Organisasi Profesi
Asosiasi profesi, mengingat kembali kalimat William Smith, sebenarnya tak lain dari bentuk formal pertemanan antara orang-orang seprofesi. Karena bentuknya yang formal, maka asosiasi profesi biasanya mempunyai aturan-aturan, kode etik, syarat keanggotaan, bahkan yang lebih serius lagi mempunyai dewan kehormatan atau dewan pertimbangan yang bertugas untuk menegakkan disiplin organisasi.

Apa keuntungan kita untuk bergabung dalam satu asosiasi profesi? Jelas bahwa keuntungannya besar, terutama kalau anda adalah seorang pemula. Manfaat yang paling minimal adalah bahwa anda secara formal diakui sebagai salah satu professional pada bidang tertentu. Walaupun baru masuk kuliah, tetapi anda telah bergabung dalam satu asosiasi profesi atau apapun yang lain, minimal secara formal anda akan diakui sebagai seorang jurnalis, seorang karateka, seorang pecinta alam, seorang pemain basket dll. Apalagi kalau untuk menjadi anggota asosiasi itu anda harus memenuhi sekian syarat, termasuk di antaranya ujian kecakapan profesi. Dengan demikian baik di antara teman-teman seprofesi maupun di hadapan masyarakat luas, anda akan diakui sebagai professional bidang tersebut.
Tetapi yang tak kalah penting sebenarnya justru di luar sisi formal keanggotaan itu sendiri. Yang lebih penting adalah bahwa anda masuk dalam kelompok professional bidang tertentu, yang mempunyai kebiasaan-kebiasaannya sendiri, cara berpikirnya sendiri, cara berpakaiannya sendiri, cara hidupnya sendiri dan lain-lain. Dengan bergaul intens dengan mereka, akan sangat mudah bagi anda untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan tuntutan profesi anda. Ingat, profesi adalah hidup anda sendiri, dengan seluruh seginya, baik menyangkut syarat-syarat keahlian maupun syarat-syarat non keahlian yang oleh masyarakat (pasar) dianggap penting. Dengan segala maaf, profesi juga menyangkut bagaimana anda berbicara, bagaimana anda berjalan, bagaimana anda berpakaian, bagaimana anda berdandan, bahkan juga aroma parfum anda.

Untuk lebih lengkap klik dan download di sini.

NEWS

« »
« »
« »