-

seorang pendaki dan petualang adalah seorang yang sangat menghargai kehidupan untuk menemukan arti kehidupan yang sebenarnya.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Seorang petualang terbaik tak hanya orang yang selalu mencoba hal-hal baru, tapi dia juga orang yang tak pernah melupakan sejarah dirinya.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

"Hanya di ketinggian pegunungan saya dapat bahagia!"

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, August 5, 2012

Materi Botani & Zoologi


Materi Botani dan Zoologi Praktis
Bahan Materi
- Cara hidup di alam bebas dengan memanfaatkan pengetahuan Botani dan Zoologi Praktis.
- Pengetahuan Botani dan Zoologi Praktis di alam bebas.
- Manfaat tumbuhan, yaitu : dapat dikomsumsi sebagai makanan, sumber air minum, bahan obat-obatan, sarana memasak, untuk membuat api, dan untuk membuat tempat perlindungan (bivak).
- Tumbuhan yang berbahaya bagi manusia.
- Manfaat hewan sebagai bahan makanan dan penanda ke sumber air.
- Hewan-hewan yang berbahaya bagi manusia.
PENDAHULUAN
Kegiatan alam terbuka (KAT) merupakan kegiatan yang penuh dengan tantangan dan resiko. Oleh karena itu, para penggiat seharusnya telah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai KAT guna kelancaaran dan keberhasilan kegiatan tersebut. Adapun pengetahuan-pengetahuan tersebut antara lain, Persiapan Perjalanan Alam Terbuka (PPAT), Mountaineering, Navigasi Darat, Botani dan Zoologi Praktis, dan Survival, yang kesemuanya saling berkaitan.
Pengetahuan mengenai Botani dan Zoologi Praktis sebagai salah satu pengetahuan dasar yang  sama pentingnya untuk diketahui disamping pengetahuan lainnya yang telah disebutkan di atas. karena tidak selamanya seorang penggiat alam dibuai dengan hal yang indah, sewaktu-waktu penggiat tersebut akan dihadapkan dengan keadaan survival yang berarti terancamnya kelangsungan kehidupan kita, itulah sebabnya pengetahuan survival yang masih ada kaitannya dengan pengetahuan Botani Zoologi Praktis merupakan pengetahuan dasar teknik hidup di alam bebas.
BOTANI
Pengertian Botani yaitu ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan, namun pada materi ini yang dibahas hanya yang berhubungan dengan kegiatan alam terbuka, yaitu bagaimana kita dapat memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan kita, terutama pada keadaan survival.
Pemanfaatan tumbuhan secara praktis di lapangan bagi kepentingan manusia, dapat dijadikan sebagai :
a. Bahan Makanan
Pedoman menkonsumsi tumbuhan sebagai makanan dilapangan :
  • - Tumbuhan tersebut sudah dikenal dan biasa dimakan
  • - Buah-buahan yang akan dimakan dan belum dikenal sebaiknya dioleskan sedikit dibibir dan ditunggu ada/tidak reaksi.
  • - Sebaiknya makan tumbuhan jangan hanya satu jenis saja.
  • - Sebaiknya bagian yang akan dimakan daunnya masih muda (pucuknya)
  • - Apabila daunnya yang akan dikonsumsi maka sebaiknya tidak bergetah atau berbulu.
  • - Tumbuhan yang tidak berbau busuk.
  • - Tumbuhan yang dimakan oleh hewan menyusui (mamalia).
  • - Tumbuhan tersebut tidak hidup menyendiri (soliter).
  • - Apabila Buahnya yang akan dikonsumsi maka buah tersebut tidak berwarna mencolok.
  • - Buah-buahan yang berwarna ungu sebaiknya tidak di makan karena dikhawatirkan mengandung racun alkaloid
Contoh jenis tumbuhan yang dapat di konsumsi
  • - Umbi Talas (Colocasia sp.), Rumput Teki (Cyperus rotondus)
  • - Arbei hutan (Rubus sp). Markisa (Passiplora guandrangularis), Bune (Antidesma bunius (L) Spreng).
  • - Biji muda Sengon (Albizia lophata) dan Kaliandra (Caliandra Cahartica).
  • - Daun muda Paku Tiang (alsophila glauca), selada air (Nasturtium officinale).
  • - Daun Begonia (Begonia sp.), Rebung Bambu (Bambusa sp.).
  • - Bunga Honje atau Kecombrang (Nicolara sp.) dan Bunga Turi (Sesbania glandiflora).
  • - Pisang Hutan muda (Musa sp.) yang dapat dimakan yaitu : buah, jantung, batang bagian dalam dan bongkol pisang muda.
  • - Jenis jamur hutan yang dapat dimakan dan mengandung protein tinggi yaitu Jamur Tiram (Pleutotus ostratus) dan Jamur Kuping (Auricularia jadae).
b. Bahan Obat-Obatan
Sudah sejak jaman dahulu manusia memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan obat-obatan. Antara lain digunakan sebagai obat demam, sakit kepala sakit gigi, luka, digigit ular beracun dan lain sebagainya (Lihat Daftar Tumbuhan Obat)
c. Tempat Berlindung
Sebaiknya tempat berlindung (beristirahat) dialasi dengan dedaunan, dapat mencegah menghantarkan dingin langsung dari tanah, pohon tumbang dapat dijadikan sebagai tempat berlindung.
d. Sumber Air
Untuk mendapatkan air dari tumbuhan dapat dilakuan dengan cara:
  • - Menyelubungkan ranting dan daunnya dengan sebuah kantong plastik yang ujungnya diikat, penguapan dari daun dapat menyebabkan pengembunan pada plastik bagian dalam.
  • - Mengumpulkan embun dari tumbuhan dengan menggunakan kain.
  • - Mengambil air dari batang tanaman rambat seperti rotan dengan cara memotong bagian atas setinggi mungkin dan bagian bawah yang dekat dengan tanah, air tetesannya dapat langsung diminum.
  • - Mengambil air yang tertampung pada daun-daun yang lebar, misalnya pisang-pisangan dan talas-talasan biasanya setelah hujan atau embun di pagi hari. Pada ruas Bambu dan pada Kantung Semar, sebaiknya disaring dan dimasak dahulu karena sering terdapat serangga yang mati dan berbau.
e. Bahan Untuk Menyalakan Api
Pada daerah yang lembab dan basah, sebelum menyalakan api, kumpulkan dalu ranting-ranting kecil yang kering sebagai penyala awal yang mudah terbakar, atau dengan cara mengiris setipis mungkin kayu yang ada hingga menjadi serpihan. Untuk membuat api, dapat dilakukan dengan cara menggesekkan bambu dengan bambu (kayu kering) yang keras secara konstan dan cepat (gerakan seperti menggergaji) hingga panas dan mengeluarkan asap, simpan bahan penyala dekat sumbur panas lalu gesek kembali hingga bahan penyala terbakar.
f. Sarana Kegiatan Memasak.
Fasilitas di alam yang dapat digunakan sebagai sarana kegiatan memasak, seperti bambu atau kelapa yang masih muda yang dilubangi ujungnya, digunakan sebagai wadah memasak.
Tumbuhan yang berbahaya
Racun tumbuhan terdapat dalam akar, umbi, batang, ranting, daun, biji, dan bulu-bulu (trikoma). Racun tersebut dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit, dapat menyebabkan kebutaan jika terkena mata, bila masuk dalam peredaran darah dapat menyebabkan keracunan, atau dapat menyebabkan kita keracunan makanan melalui saluran pencernaan.
Adapun ciri-ciri tumbuhan yang beracun antara lain :
  • - Mempunyai getah seperti susu, biasanya beracun untuk dikomsumsi sebagai makanan.
  • - Buah-buahan yang warnanya menyolok, biasanya beracun untuk dikomsumsi sebagai makanan.
  • - Daun yang mempunyai bulu-bulu atau duri-duri halus, biasanya menimbulkan gatal-gatal.
  • - Khusus untuk jamur, ciri-ciri yang beracun yaitu pada tangkai terdapat bagian yang menyerupai cincin, warna menyolok, berbau busuk, biasanya hidup pada tempat-tempat yang kotor(seperti kotoran hewan), jika diiris/dipotong dengan pisau perak meninggalkan bekas noda, jika dimasak dengan nasi akan meninggalkan warna gelap pada nasi disekitar jamur tersebut.
ZOOLOGI
Pengetahuan tentang hewan penting pula diketahui bagi para penggiat alam bebas. Dimana hewan dapat dimanfaatkan dalam usaha untuk menambah bahan makanan dan dapat dijadikan penanda ke sumber air. Oleh karena itu maka perlu juga diketahui mengenai perihal hewan-hewan dan kehidupan mereka. Cabang biologi yang mempelajari tentang hewan disebut Zoologi. Namun dalam materi ini hanya membahas mengenai peranan hewan bagi penggiat alam bebas
Hewan dapat dikomsumsi sebagai makanan, namun sebelumnya diperhatikan dahulu bahwa :
  •  Pada umumnya hewan bersifat mobil.
  • Ukuran tubuh hewan sangat bervariasi
  • Hewan mempunyai pola pewaktuan aktivitasnya, dapat aktif di siang hari atau aktif di malam hari.
Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang kehadiran suatu jenis hewan :
  •  Distribusi lokal dan regoinal serta kelimpahan populasi.
  • Pengaturan fisiologis, respon, adaptasi struktural dan perilaku perubahan terhadap perubahan
  • Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
  • Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, dll) dari kehadiran aktivitas atau kelimpahan populasi hewan.
  • Dinamika populasi dan komonitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam populasi dan komunitas.
Peran hewan
Sebagai sumber makanan
Hal yang perlu diperhatikan :
- Jenis hewan tersebut
- Tempat hidup atau habitatnya
- Ukuran tubuhnya
- Makanannya
- Pola tingkah laku hewan tersebut.
Hewan yang dapat dimakan antara lain :
- Mollusca (kerang-kerangan)
- Annelida (cacing)
- Insecta (serangga)
- Crustacea (udang-udangan)
- Pisces (ikan)
- Amfibia (katak)
- Reptilia (hewan melata)
- Mamalia (hewan menyusui)
- Aves (bangsa murung)
Penanda ke sumber air
- Hewan bertulang belakang (Vertebrata), jejaknya yang menuruni lembah biasanya menuju ke sumber air.
- Burung, jika terbang rendah secara langsung biasanya menuju ke sumber air dan jika terbangnya singgah-singgah biasanya berasal dari sumber air.
- Serangga, biasanya hidup tidak jauh dari sumber air.
HEWAN YANG BERBAHAYA DAN BERBISA
Hewan dapat pula menimbulkan bahaya bagi manusia. Hal ini dapat disebabkan jika ia merasa terganggu dan dengan alat pembela dirinya maka hewan tersebut menyerang. Adapun jenis hewan yang berbahaya dan berbisa yang bisa kita jumpai di alam terbuka adalah sebagai berikut :
- Nyamuk Malaria (Anopheles sp.)
- Agas
- Semut Api
- Tawon atau lebah (Apis sp.)
- Kelabang (Centripoda)
- Kalajengking (Heterometrus cyaneus)
- Pacet (Haemadipsa zeylanica) dan Lintah (Hirudineae sp.)
- Harimau (Panthera tigris) dan Macan Kumbang (Panthera pardus)
- Buaya (Crocodilla pororsus)
- Ular (Ophidia)
Beberapa petunjuk untuk mengidentifikasi ular berbisa :
  • Tidak semua ular berbisa kepalanya segitiga, tetapi ular yang kepalanya segitiga adalah berbisa.
  • Pada punggungnya berlunas sehingga membentuk garis punggung mulai dari belakang sampai ekor.
  • Mempunyai kelenjar gigi bisa pada bagian kepala.
  • Jika menggigit, meninggalkan bekas gigitan berupa dua buah lubang (gigi bisa).
DAFTAR TUMBUHAN OBAT
Beberapa jenis tumbuhan yang biasa dijumpai di alam terbuka/lapangan yang dapat di manfaatkan sebagai obat, antara lain :
1. Arbenan (Dechesnea indica)
Kegunaan :
  • Muntah darah: Caranya herba segar ditumbuk kemudian diberi air ±1 gls dicampur dengan gula merah secukupnya kemudian di tim, saring, setelah dingin baru diminum
  • Batuk, Flu/influensa: Herba digodok kemudian airnya diperas lalu diminum.
  • Digigit ular atau serangga: Herba segar ditumbuk sampai lumat kemudian dibubuhkan di tempat yang tersengat atau tempat yang sakit.
2. Asam (Tamarindus indica L.)
Kegunaan :
  • Bisul: Biji asam ditumbuk hingga halus diberi sedikit air garam dan dipakai untuk menurap bisul, lalu dibalutkan dan diganti 2 kali sehari.
  • Sariawan: Kumur-kumur dengan air asam
  • Demam: Daun asam ditumbuk kemudian perasan airnya diminum
  •  Rematik/bengkak terpukul: Daun muda asam dan rimpang kunyit digiling halus, seduh dengan sedikit air panas kemudian dipakai untuk menurap bagian yang sakit. Atau buah asam tanpa biji dilumatkan seperti bubur kemudian dipanaskan sebentar kemudian dipakai untuk menurap bagian yang sakit.
- Keseleo : Daun segar dicuci kemudian ditumbuk halus seperti bubur kemudian diturapkan ke tempat yang sakit.
3. Bandotan (Ageratum longzoldes L.)
Kegunaan :
- Demam, malaria dan radang paru (pnemonia): Herba kering dimasak dengan air kemudian airnya diminum sehari 2x.
- Keseleo: Daun bandotan dilumatkan kemudian dibalurkan di tempat yang sakit atau diturapkan pada bagian yang sakit, diganti 2x sehari.
4. Nangka (Arthocarpus heterophyllus )
Kegunaan :
- Luka luar, borok: Daun dilumatkan menjadi bubuk kemudian dibubuhkan ditempat yang sakit.
- Bisul, gigitan ular: Getah nangka dibubuhkan pada tempat yang sakit.
- Sembelit: Buah nangka dimakan
- Demam, malaria: Kayu nangka di rebus kemudian diminum.
- Diare dan demam: Akar di rebus kemudian diminum airnya.
5. Teki (Cyperus rotundus)
Kegunaan :
- Bisul, luka tepukul, memar, gatal-gatal pada kulit: Teki dicuci digiling halus, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit.
6. Pepaya (Carica papaya L.)
Kegunaan :
- Malaria : Daun pepaya muda yang segar dicuci, digiling hingga halus dan tambahkan ¾ gelas air masak dan garam secukupnya, diperas, disaring dan diminum 3 x sehari.
- Digigit ular berbisa: 5 jari akar pepaya dicuci, ditumbuk hingga halus dan ditambahkan dengan air garam tumbuk hingga seperti bubur, turapkan pada bekas gigitan lalu balut ganti 2x sehari-hari.
- Sakit maag: 1 buah pepaya masak, kupas, cuci dengan air masak yang diberi air garam, dimakan 2x sehari, sehabis makan nasi.
- Kaki gajah: Daun pepaya secukupnya dimasak dipakai merendam kaki yang membesar.
- Luka bakar: Getah pepaya diusap ditempat pada luka bakar agar mencegah timbulnya lepuhan.
7. Senggani (Melastoma candidum)
Kegunaan :
- Sariawan, diare: 2 lembar daun muda dicuci lalu dibilas dengan air matang, kunyah dengan garam secukupnya lalu ditelan, buah dimakan sebagai obat sariawan.
- Menetralkan racun singkong: 60 – 90 gram daun atau akar digodok, lalu diminum.
8. Cengkeh (Egunia aromatika (L))
Kegunaan :
- Sakit perut, mulas dan mual: cara penanggulangannnya adalah 10 tetes minyak cengkeh seduh dengan ¼ cangkir air panas ditambahkan dengan 1 sendok makan madu, aduk sampai rata, selagi hangat minum 2 kali sehari.
- Muntah karena lambung dingin, mual dan amandel: Beberapa butir cengkeh diseduh diminum sebagai teh.
- Sakit gigi: 10 biji cengkeh disangrai hingga hangus kemudian giling, kemudian masukan ke dalam lubang gigi yang sakit tutup dengan kapas.
9. Ketimun (Cucumus sativus L.)
Kegunaan :
- Tekanan darah tinggi: 2 buah ketimun di parut kemudian di peras air perasan tersebut di minum.
- Demam: ketimun dicuci kemudian di parut, hasil parutan di kompreskan di atas perut.
10. Kunyit (Curcuma Longa Linn).
Kegunaan :
- Demam, pilek dan hidung tersumbat: 20 gr rimpang segar, cuci, parut dan tambahkan ½ gls air matang kemudian di aduk dan di peras dengan sepotong kain, air perasan tersebut di minum 2 kali sehari, atau ambil sepotong kunyit, iris secukupnya , rebus dengan 1 gelas air sampai mendidih uapnya dihirup melalui lubang hidung yang tersumbat.
11. Lengkuas (Alpina galanga (L) Willd)
Kegunaan :
Menghilangkan Rasa dingin, Kembung, muntah, mual, diare, kurang napsu makan: 3 – 6 gr lengkuas direbus, kemudian airnya diminum.
12. Bakung putih (Ctinum aciaticum L.)
Kegunaan :
- Sakit gigi: akar bakung digiling, lalu ditempelkan pada bagian yang sakiit, atau akar direbus dengan air bersih hingga mendidih lalu air hasil rebusan dikumur lalu dibuang.
- Keseleo: Daun bakung dihangatkan di atas api kecil hingga layu kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit.
- Bisul, radang kulit bernanah, bengkak: Daun dan bunga dicuci dan dihaluskan kemudian ditambahkan sedikit madu, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit.
- Luka karena benda beracun: Umbi bakung dicuci kemudian dihaluskan, ditempelkan pada bagian yang luka.
- Mengatasi buang air yang tidak lancar: daun diolesi dengan minyak kelapa lalu ditempelkan pada daerah kandung kemih.
- Luka akibat benda beracun, digigit ular: 5 – 10 gr umbi dicuci, dihaluskan, disaring kemudian airnya diminum dan ampasnya ditempelkan pada bagian yang luka kemudian dibalutkan.
Catatan: Tumbuhan bakung mengandung racun, terutama dibagian umbinya, gunakan secara hati-hati.
13. Begonia (Begonia sp.)
Kegunaan :
Sakit tenggorokan: 15 gr umbi begonia dicuci kemudian diiris-iris, tambahkan 300 cc air lalu dihaluskan, air tersebut dipakai untuk kumur-kumur.
14. Bugenfil (Bougainvilaea glabra Chaicy)
Kegunaan :
Bisul: dengan cara bunga bugenfil dan daun cocor bebek, dibersihkan kemudian dihaluskan dan ditempelkan pada bagian yang sakit.
15. Bunga Matahari (Helianthius annus L)
Kegunaan :
- Sakit gigi: 60 gr dasar bunga + 5 gr jahe di rebus dengan 600 cc hingga menjadi 300 cc, kemudian disaring, lalu diminum selagi hangat.
- Sakit perut saat datang haid: 30 gr bagian dasar bunga matahari + gula merah secukupnya direbus dengan air secukupnya, disaring lalu air tersebut diminum.
16. Bunga Tasbih (Canna Indica)
Kegunaan :
- Luka berdarah: radang kulit bernanah, jerawat: akar atau rimpang segar bunga tasbih secukupnya dihaluskan kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit.
- Ambein: 30 – 60 gr, akar rimpang direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring kemudian diminum.
17. Bungur (Lagerstromia indica L)
Kegunaan :
- Migrain atau sakit kepala sebelah: 30 gr daun dan akar dimasak bersama 60 gr daging sapi lalu dimakan
- Sakit gigi: 15 gr akar bungur dimasak bersama dengan daging ayam atau sapi hingga matang lalu dimakan.
18. Kembang merak (Caesalpina pulcherrima (L))
Kegunaan :
- Luka terpukul: Bunga dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian yang sakit.
- Penyakit kulit: Daun dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian yang sakit.
- Sariawan: Daun kembang merak direbus hingga mendidih, disaring airnya dipakai berkumur-kumur.
- Perut kembung: Daun + alang-alang + bawang putih ditumbuk halus lalu dibalurkan pada perut yang kembung
- Panas: Bunga kembang merak direbus lalu disaring dan diminum.
- Diare akut: Kulit batang ditumbuk halus, diseduh dengan 100 cc air lalu diminum hangat-hangat.
Catatan : Wanita hamil di larang minum obat ini.
19. Kembang pukul empat (Mirabilis jalapa L)
Kegunaan :
- Bisul: daunnya dihaluskan ditambahkan sedikit garam dan ditempelkan pada bisul dan dibalutkan kain kasa.
- Jerawat: Buahnya dibuat zat tepung dan ditambahkan air secukupnya lalu diolesi muka yang berjerawat.
- Koreng, luka terpukul, eksim: Tumbuhan segar secukupnya dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian yang sakit atau direbus dengan air secukupnya, digunakan untuk mencuci bagian yang sakit.
- Amandel, radang tenggorokan: akar kembang pukul empat dibersihkan kemudian dijus, lalu airnya diminum.
20. Tomat (Lycopersicon esculentum)
Keguanan :
- Kulit terbakar sinar matahari: Daun muda setelah dicuci bersih, diremas, dibalutkan ke kulit yang terbakar.
- Demam: 3 buah tomat masak dicuci dan dipotong-potong, diremas dengan ½ cangkir air masak dan 1 sendok makan madu, peras dan saring lalu diminum 3 kali sehari.
21. Melati (Jasminum sambac)
Kegunaan :
- Luka, patah tulang, keseleo: Akar melati secukupnya dicuci dan dihaluskan lalu dimasak, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit dan dibalutkan dengan kain kasa.
- Susah tidur (Insomnia): 1 – 1,5 gr akar dicuci bersih, digiling tambahkan air masak secukupnya, saring kemudian diminum.
- Radang mata merah: Bagian bunga dicuci bersih lalu digodok sebagian air diminum dan sebagian lagi untuk mencuci mata.
- Bengkak akibat gigitan binatang: Daun atau bunga secukupnya dicuci, digiling halus, tempel ke tempat yang sakit.
- Demam, sakit kepala: 10 gr daun dan 10 bunga melati, diremas-remas, direndam dengan air secukupnya air tersebut digunakan untuk mengompres.atau akarnya dilumatkan dan ditempelkan pada dahi.
- Cacingan: 15 gr akar + 1 pilah daun pepaya direbus dengan 600 cc air rebus hingga air menjadi 300 cc lalu disaring, air saringan diminum hangat-hangat..
- Sesak napas: 10 lembar daun melati direbus dengan 600 cc air rebus hingga mendidih, tunggu hingga air rebusan menjadi 300 cc kemudian beri dengan garam secukupnya, saring dan minum 2x sehari sebanyak 150 cc.
Catatan: wanita hamil dan dalam kondisi lemah dilarang menkomsumsi obat ini.
22. Widuri (Calotropis gigantea).
Kegunaan :
- Gigi rusak: Getah widuri 3 – 4 tetes dengan kapas dan dilumurkan pada gigi yang rusak dan jangan sampai kena gigi yang sehat.
- Kutil: Getah widuri + kapur sirih diolesi pada kutil 2 –3 kali sehari.
- Eksim: Getah dioleskan 2 – 3 kali sehari.
23. Alang-alang (Imperata cylindrica)
Kegunaan :
- Muntah darah, mimisan: 30 –60 gr akar segar yang telah dibersihkan, dipotong-potong lalu digodok dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas, minum setelah dingin.
24. Bayam duri (Amaranthus spinosus)
Kegunaan :
- Sakit kerongkongan: 45 gr akar segar dicuci bersih, digodok, minum.
- Demam: 1 genggam daun segar dicuci, digiling halus dan ditambahkan air secukupnya dan dikompreskan pada dahi.
25. Belimbing manis (Averrhoa carambola)
Kegunaan :
- Influenza, sakit tenggorokan: 90 – 120 gr buah belimbing segar diparut, air perasannya diminum, atau buahnya dimakan.
- Bisul: daun segar secukupnya dicuci, digiling, diaduk dengan air cucian beras, sampai menjadi adonan seperti bubur, tempelkan ke tempat yang sakit lalu dibalut.
- Malaria: 15 –24 gr Bunga kering diseduh dengamn air yang mendidih, diminum 2 kali sehari.
26. Cabe rawit (Capsicum frutescons)
Kegunaan :
- Sakit perut: Daun muda digiling halus lalu dicampurkan dengan sedikit kapur sirih dibalurkan pada perut yang sakit.
- Frostbite: kulit cabe ditempelkan pada bagian yang sakit.
27. Sambiloto (Andrographis pariculata)
Kegunaan :
- Batuk rejan: 3 lembar daun diseduh dengan air panas, dicampur dengan madu secukupnya minum sehari 3 kali.
- Sakit gigi, infeksi telinga tengah, hidung berlendir: 9 – 15 gr herba segar digodok dan diminum atau dilumatkan dan diperas airnya untuk tetes telinga.
- Digigit ular berbisa: Daun segar dilumatkan diaduk dengan tembakau (rokok) diturapkan pada tempat yang luka, 9 –15 gr daun segar, digodok,diminum.
- Demam: Tumbuk segenggam daunnya dan 1 sloki air bersih, disaring, diminum daun segar sambiloto untuk mengompres badan yang panas.
28. Jambu biji (Psidium guajava)
Kegunaan :
- Diare: 3 lembar daun jambu biji mudah dikunyah dengan sedikit garam kemudian ditelan, dikonsumsi 2 kali sehari, atau ditumbuk dengan ½ cangkir air, kemudian diperas lalu diminum.
- Luka berdarah: Daun segar dilumatkan tempelkan pada bagian yang sakit.
29. Jarak pagar (Jatropha capcar)
Kegunaan :
- Gatal-gatal, eksema: Daun dipanaskan diatas api sampai lemas,diremas untuk pemakaian setempat.
- Jatuh, terpukul, bengkak: Daun segar dicuci bersih, kemudian diremukkan tempelkan pada bagian yang sakit.
- Sakit gigi: Petik setangkai daun, getahnya diambil lalu dimasukkan pada lubang gigi yang saki.
30. Kangkung (Ipomoer aquabiza)
Kegunaan :
- Keracunan makanan: 500 – 1000 gr kangkung segar cuci kemudian bilas dengan air matang, tumbuk lalu diperas airnya, kemudian diminum.
- Mimisan: 50 gr kankung segar dicuci bersih kemudian ditambah gula secukupnya, digiling halus kemudian diseduh dengan air panas setelah dingin disaring kemudian diminum.
- Susah tidur, sembelit: Batang dan daun direbus dan dimakan sebagai lalap atau ditumis.
- Badan lemah (Neurasthenia): Kangkung segar 1/3 genggam daun, ¼ genggam akar, dicuci ditumbuk halus tambhakan ½ cangkir air masak dan 1 sendok madu diperas, disaring minum 3 kali sehari.
- Digigit ular: kangkung segar dicuci, ditumbuk halus, diperas airnya sampai terkumpul ½ mangkuk diminum bersama arak, ampasnya dibubuhkan pada tempat yang sakit.
- Digigit lipan: Kangkung segar, setelah dicuci ditambahkan garam secukupnya digiling hingga halus, dibubuhkan pada tempat yang sakit, lalu dibalutkan.
31. Pacing (Costus speciosus)
Kegunaan :
- Digigit ular: Satu batang paling seutuhnya dicuci lalu ditumbuk halus, beri air garam ampasnya untuk menurap luka gigitan ular lalu dibalutkan sehari 2 kali.
- Radang mata: 3 jari batang paling cuci ditumbuk, peras dan saring airnya untuk ditetesi pada mata yang sakit, 3 – 4 kali perhari sebanyak 2 tetes.
32. Pohon Sig Sag (Pedilanthus tithymaloides)
Kegunaan :
- Borok, koreng, luka berdarah: Tanaman segar dicuci bersih, digiling bubuhi ke tempat yang sakit
- Gigitan lipan atau kelabang, bengkak terpukul: Tanaman dilumatkan dan dibubuhkan ke tempat yang sakit.
33. Pule pandak (Ranfolvia serpentina)
Kegunaan :
- Sakit kerongkongan: Akar secukupnya di iris tipis-tipis akar tersebut dihisap seperti permen
- Sakit kepala, susah tidur, pusing, demam, radang kantung empedu, luka terpukul, kurang napsu makan, sakit perut: 10 -15 gr akar digodok diminum.
- Demam influenza : 25 gram daun digodok diminum
- Luka terpukul atau digigit ular: Daun segar dilumatkan,dibubuhkan pada tempat yang sakit.
- Luka berdarah: Daun muda secukupnya ditumbuk dan dibubuhi pada tempat yang sakit.
34. Rumput bambu (Lophatherum gracile)
Kegunaan :
- Demam, gelisah, haus: 10-15 gr daun atau akar dicuci bersih, lalu digodok, minum setelah dingin .
- Demam, haus, air kemih sedikit termasuk infeksi akut pada saluran kemih: 3 – 9 gr daun dan batang dicuci bersih lalu digodok dan diminum sebagai teh.
- Bisul pada kelopak mata (hordeolum), dan luka pada selaput bening mata: Batang dan daun dicuci bersih, dibilas dengan air matang, ditumbuk halus lalu diperas, air perasan dipakai sebagai obat tetes.
35. Srikaya (Annona squamosa L.)
Kegunaan :
- Borok, bisul yang keras: daun secukupnya setelah dicuci bersih digiling halus sampai menjadi bubur, tambahkan sedikit garam, dipakai untuk menurap bagian yang sakit. Air godokan daunnya digunakan untuk mencuci luka dn borok.
- Tiba-tiba pingsan, menenangkan pada gangguan histeris: Daun secukupnya setelah dicuci bersih, lalu diremas atau ditumbuk halus, penderita menghirup bau remasan atau air perasan daun tersebut.
- Obat luka: Daun secukupnya digodok, airnya untuk mencuci luka.
36. Suruhan (Piperomis pellucida)
Kegunaan :
- Sakit kepala: seluruh tumbuhan dilumatkan, ditempelkan ke tempat yang sakit.
- Sakit perut: 30 gr herb segar setelah dicuci ditumbuk halus, air perasannya diminum.

Thursday, August 2, 2012

ASAL USUL BEBERAPA DESA DI KECAMATAN WONOTUNGGAL KABUPATEN BATANG

LEGENDA DESA DI WILAYAH KECAMATAN WONOTUNGGAL
(Ditulis oleh: Nurrochim, S.Pd)



DESA BATIOMBO

Konon kabarnya yang membuka hutan Batiombo untuk dijadikan perkampungan adalah mbah Soleman. Namun mbah Soleman tidak sendirian, ia dibantu oleh mbah Runtah yang membuka hutan yang kemudian dijadikan desa Wonorejo. Selain membuka hutan untuk dijadikan perkampungan mbah Runtah juga membuat persawahan di  Glendeng dan Kali Asem. Juga ada den Usup yang membuka hutan untuk dijadikan desa Sempu. Ketika sedang membuka hutan den Usup menjumpai pohon asem yang ada empunya (penunggunya), maka hutan yang baru dibuka itu dinamakan Sempu. Karena berjasa dalam membuka hutan menjadi desa Sempu den Usup oleh penduduk diberi julukan Mbah Sempu. Selain membuka hutan untuk perkampungan den Usup juga membuat persawahan dan sungai Jamban sari yang mengalir dari Si Kuntung di desa Wonosegoro sampai Kluwak. Setelah meninggal dunia ketiga orang tadi dimakamkan di makam desa Batiombo yang terletak disebelah selatan desa Batiombo.
Pada waktu yang menjadi kepala desa Haji Sabuk didatangkan guru agama dari Mangkang untuk mengajar penduduk dalam soal agama Islam. Sehingga dalam waktu yang cukup lama banyak penduduk yang mengikuti soal agama Islam.
Dalam kisahnya diceritakan pada suatu waktu ada pangeran yang bernama Mbantu kuwat. Pangeran dari Solo itu mengadakan perjalanan adalah dalam rangka melakukan topo broto (laku prihatin). Sewaktu tiba di sebelah selatan desa Batiombo ia berhenti untuk istirahat dan melakukan sholat. Konon kesaktiannya batu yang digunakan untuk alas sholat tadi membekas telapak kaki, lutut, tangan, dahi dan mata. Dan sampai sekarang batu tersebut dapat dujumpai terletak di tepi sebuah sungai sebelah selatan desa Batiombo.


DESA SI LURAH

Konon kabarnya yang pertama-tama membuka hutan untuk dijadikan perkampungan adalah seorang yang bernama Ki Lurah. Oleh karerna itu daerah yang baru dibuka diberi nama Silurah, sebagai pertanda bahwa yang membuka hutan tersebut adalah Ki Lurah.
Setelah Silurah menjadi desa yang ramai, suatu hari desa dilanda pageblug, yaitu apabila ada orang yang sakit pagi sorenya meninggal dunia, demikian pula kalau sakit sore paginya meninggal dunia. Demikian pageblug terus melanda desa tanpa ada yang dapat menghentikannya, hingga suatu hari ada seorang yang bernama Ki Gonel dengan istrinya Ni Gonel yang dengan kesaktiannya dapat melenyapkan pageblug tadi. Sebagai tanda syukur telah berhasil melenyapkan pageblug, penduduk mengadakan syukuran dengan menyembelih seekor kambing kendit, dan kepalanya ditanam di suatu tempat yang bernama Larangan, sedangkan sebagai hiburannya didatangkan ronggeng dengan gamelan yang digunakan untuk mengiringnya yang berasal dari gunung Rogokusumo yang dapat dipinjam asal dengan memberi sesaji.
Adapun cerita yang terjadi pada penduduk bahwa di gunung Rogokusumo dapat dijumpai adanya emas sebesar kerbau. Karena saking besarnya mampu memberi pengaruh warna kuning bagi orang yang lewat disebelahnya.Itulah mengapa disebut dengan gunung Rogokusumo. Di desa Silurah juga dapat dijumpai adanya pertapaan, yaitu tempat orang-orang yang datang dari daerah manapun untuk bertapa di situ. Dan di tempat tersebut dapat dijumpai adanya tempat untuk membakar kemenyan. Sedangkan gamelan yang bisa dipinjam oleh penduduk bila mengadakan hajat sudah tidak ada lagi, yang ada hanya masih tempat gantungan gongnya saja. Karena pada jaman dahulu tiap penduduk yang meminjam ada yang mengembalikannya terlambat tidak sesuai dengan perjanjian, juga kalau ada yang meminjam tidak merawat sehingga menjadi kotor. Sehingga oleh pemilik perangkat gamelan hal itu tidak menjadi berkenan dan gamelan tidak bisa keluar lagi.


DESA SODONG

Ki Ajar Pendek yang berada di Silurah orangnya berangasan, senang membuat onar (senang adu kasekten). Pada suatu saat Pangeran Kajoran yang asal mulanya dari Wonobodro karena ingin menyebarkan agama Islam mereka mengembara mencari daerah yang memungkinkan untuk mendirikan masjid, sampailah di desa Tombo karena sesuatu hal ide pendirian Masjid di Tombo gagal, dan tempat tersebut dinamakan “Ngelo” dan barang siapa lewat di tempat situ pedagang atau pejabat atau bencoleng akan mengalami kehancuran.
Pangeran Kajoran merantau lagi sampai di suatu tempat yang masih hutan belantara dan banyak dihuni babi hutan sedangkan sarang babi hutan namanya “SODONG”.
Di sinilah Pangeran Kajoran ingin mendirikan masjid, adapun persiapan pembuatan masjid, batur lokasinya yaitu depan SD Sodong 01. sekarang bambu yang untuk buat usuk/rangken itu direndang di Paguyangan dan ada yang hanyut sampai di hutan dan tumbuh di situ, hutan tersebut namanya hutan Larangan (kalau mengambil bambu dari situ untuk membuat bangunan maka tidak akan jadi).
Paguyangan tersebut yang membuat adalah Den Bagus Karang/Ki Carang Aking yaitu seorang pengembala kerbau yang berasal dari daerah Blado dan setiap saat orang mengguyang kerbau/memandikan kerbau di situ kerbaunya senang berkelahi dengan batu di tengah guyangan tersebut maka batu itu namanya “Watu Palem”. Den Bagus Karang, karena masih jaman peperangan dia dibutuhkan ke daerah Plelen (Grinsing) dan di Sodong meninggalkan tempat ibadah dekat Peguyangan. Dan setiap bulan Sapar hari Rabu Kliwon sampai sekarang masih ada.
Pangeran Kajoran akan membuat masjid di Sodong tidak jadi karena ketahuan perawan Sunti (perawan yang tidak punya suami) maka sampai sekarang kalau ada perawan yang kasep banyak yang minta petunjuk dengan mbah Tasmi sehingga akan banyak segera mendapat jodoh (banyak yang datang dari daerah yang lain).
Pembuatan masjid juga dibatalkan karena permusuhan antara Ki Ajar Pendek dengan Pangeran Kajoran. Karena keduanya juga orang sakti maka saling mengeluarkan kesaktiannya yaitu Ki Ajar Pendek mengeluarkan hujan cacing maka pangeran Kajoran mengeluarkan hujan itik, dan Ki Ajar mengeluarkan hujan api maka Pangeran Kajoran mengeluarkan hujan angin yang sekarang namanya si angin-angin dan apabila orang (pejabat, orang yang murka) lewat di situ maka akan segera hancur kedudukannya. Pembuatan masjid dilanjutkan dan “SODONG” hanya untuk “NONOB” atau istirahat atau ngaso dan ngandhong (Ngasodong) menjadi SODONG.
Pengikut Pangeran Kajoran yang namanya Kyai Ageng Asmo (Syeh Baitul Iman) yang meninggalkan Candhen/makom yang berwujud Batu Lima cacahnya yang orang sodong mengatakan batu itu sebagai tanda :
1.      Hitungan pasaran           : Kliwon, Manis, Pahing, Puasa dan Haji.
2.      Rukun Islam                    : Sahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.
3.       Pancasila                       : Berketuhanan, Berkeprimanusiaan, Bersatu Bermusyawarah,      berkerakyatan, Mempunyai rasa keadilan sosial.
Maka orang sodong selalu melewati rasa kegotong royongannya untuk mencapai sukses bersama.


DESA KEDUNGMALANG

Alkisah ada seorang kyai yang bernama kyai Cagak Aking, yaitu anak buah dari Pangeran Diponegoro. Setelah sampai pada suatu hutan yang lebat ia berhenti dan bermaksud membuka hutan tersebut. Namun ketika membuka hutan dan sampai di sebelah utara di situ sudah ada padukuhan Sumber. Sedangkan yang berkuasa di dukuh Sumber adalah Sutojoyo dan mbah Sarinten yang waktu itu sedang memperluas wilayahnya ke selatan. Di tengah-tengah kedua wilayah tersebut mereka bertemu dan terjadilah adu kekuatan antara kyai Cagak Aking melawan Sutojoyo yang dibantu oleh mbah Sarinten. Setelah bertempur sekian lama ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Akhirnya tempat beradunya dua penguasa tadi diberi batas berupa patok dari batu (sampai sekarang masih dapat dijumpai). Setelah kejadian tersebut Sutojoyo dan mbah Sarinten membuat saluran air untuk mengairi sawah. Sewaktu sedang beristirahat dan akan menjalankan sholat, datanglah seekor ular besar yang bermaksud akan mengganggu. Ular besar tersebut adalah utusan dari kyai Cagak Aking yang masih dendam terhadap Sutojoyo dan mbah Sarinten. Oleh Sutojoyo ular tersebut berhasil dibunuh dengan sebilah pedang dan dipotong-potong menjadi tiga bagian. Ekornya tidak diketahui kemana jatuhnya, badannya jatuh di sungai Kupang dan membendung sungai tersebut sehingga menjadi sebuah kedung yang malang. Melihat kejadian tersebut anak buah Sutojoyo dan mbah sarinten melaporkan kepada mbah Nompoboyo. Kemudian oleh mbah Nompoboyo disarankan agar kedung yang malang tadi supaya dijadikan nama desa yang baru dibuka oleh kyai Cagak Aking. Maka jadilah desa tersebut dengan nama Kedungmalang.
Adapun kepala ular tadi jatuh di saluran Sekung yang terletak di sebelah barat desa Kedungmalang. Karena di situ banyak tumbuh pohon pucung yang berderet-deret, maka tempat tersebut diberi nama Pucung Kerep. Dan sampai sekarang pohon pucung tesebut masih dapat dijumpai. Setelah kyai Cagak Aking meninggal dunia dimakamkan di sebelah barat desa Kedungmalang dan oleh masyarakat tempat tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan.


DESA SENDANG

Tersebutlah seorang yang berasal dari desa Wonotunggal yang bernama nyai Mogosari. Suatu hari ia mengadakan perjalanan ke selatan dan sampai pada suatu tempat yang ada sumber air (sendang) yang diapit oleh dua pancoran. Oleh kyai Pancoran tempat tersebut diberi nama Sendang Kapit Pancoran. Kemudian nyai Nogosari membuka hutan untuk dijadikan perkampungan yang diberi nama Sendang Larangan. Sendang tersebut diberi nama Sendang Larangan karena tempat tersebut ada larangannya. Konon menurut ceritanya dulu apabila ada orang yang bersalah (pencuri, perampok) pasti akan dapat ditangkap. Namun sekarang penduduk tidak mempercayainya lagi, semuanya diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah desa Sendang Larangan menjadi ramai, nyai Mogosari kembali membuka hutan untuk dijadikan perkampungan lagi. Kampung tersebut karena dibuat terakhir (paling akhir atau anyaran) maka diberi nama Sendang Anyaran.
Setelah masing-masing pedusunan menjadi ramai dan memerlukan pemerintahan yang jelas, maka ketiga dusun tadi dijadikan satu dengan nama desa Sendang. Hal ini mengingat ketiga pedusunan tadi memakai nama Sendang, dan nama Sendang mewakili ketiganya.


DESA WONOTUNGGAL

Konon kabarnya yang pertama membuka hutan Wonotunggal adalah Ki Gede Singosari yang berasal dari Majapahit. Pengikutnya bernama mbah Embo dan mbah Sarinten. Pada jaman dahulu pedukuhan-pedukuhan tersebut masih berdiri sendiri yaitu Sumber, Tegalsari, Siwunut dan Wonotunggal. Kemudian dijadikan satu dengan nama desa Wonotunggal.
Diceritakan pada suatu waktu ada seorang pengembara yang bernama bang Bintulu. Dalam pengembaraannya ia sampai di hutan yang lebat. Di situ ia beristirahat sambil tiduran ia merasakan angin yang semilir/silir-silir dan asri. Kemudian ia berujar kalau suatu saat nanti dan jaman berubah tempat itu menjadi ramai maka diberi nama Tegal Sari (pategalan yang asri).
Sedangkan yang membuka desa Sumber konon kabarnya adalah wali Depok dan membuka desa Siluwok adalah putri Siluwok.
Konon kabarnya di dukuh Silwunut pada setiap bulan Jumadil awal selalu diadakan selamatan desa/nyadren dengan mengadakan pagelaran wayang tersebut Ki dalangnya harus selalu tetap, tidak boleh ganti-ganti. Pernah suatu ketika dalangnya diganti, oleh kejadian tersebut rakyat tidak merasa tenteram. Ada kejadian-kejadian aneh yang selalu menimpa penduduk dengan pergantian dalang tersebut.

DESA BROKOH

Dahulu kala ada seorang wali Ajar yang bernama Ki Ajar Kupang, menurut ceritanya bahwa dalam mengerjakan pekerjaan tidak pernah selesai, hanya satu pekerjaan yang dapat diselesaikan yaitu membuat saluran wura wari. Pernah suatu ketika Ki Ajar Kupang akan membuat masjid, tetapi tidak selesai. Adapun bekas-bekasnya sekarang masih dapat dijumpai yaitu terletak di belakang rumah kepala dusun, yaitu berupa sumber air yang berasal dari kolam yang konon dulu akan dijadikan tempat untuk berwudhu. Sumber air tersebut sekarang digunakan untuk mengairi sawah di sekitarnya.
Daerah Kupang konon kabarnya dulu merupakan hutan jati yang sangat lebat tidak ada pohon lainnya. Setelah dibuka dan dijadikan perkampungan oleh Ki Ajar Kupang, tempat tersebut diberi nama desa Kupang, yang berasal dari nama orang yang membuka hutan tersebut yaitu Ki Ajar Kupang. Makin lama desa Kupang berkembang menjadi desa yang ramai, hingga memerlukan sebuah masjid  untuk menjalankan sholat bagi orang-orang Islam yang sudah menjadi anak buah/pengikut Ki Ajar Kupang. Maka suatu hari untuk keperluan pendirian tersebut Ki Ajar Kupang Memerlukan atap untuk masjid. Namun mencari bahan untuk membuat atap di desa Kupang tidak memperoleh. Kemudian Ki Ajar Kupang mencari di daerah lainnya sambil memperluas wilayah desa Kupang. Sampailah pada suatu hari di tempat sebuah bukit kecil yang banyak ditumbuhi oleh tanaman pandan. Oleh anak buahnya daun pandan tadi dijadikan sebagai bahan untuk membuat atap masjid. Karena hanya daerah situ saja yang ada, maka anak buah Ki Ajar Kupang lalu menetap. Kemudian mereka memberi nama daerah tersebut dengan nama Sipandan. Tetapi lambat laun karena logat bicara orang-orang berubah menjadi Sipandak.
Juga diceritakan suatu saat mbah Nompoboyo sesepuh desa Wonotunggal yang mengutus putra angkatnya yang bernama Bromosari utuk memadamkan pemberontakan di suatu tempat. Namun Bromosari kalah sakti dari pimpinan pemberontak tadi dan meninggal dunia. Oleh pengikutnya ia dimakamkan di tempat itu dan kemudian tempat tersebut diberi nama desa Brokoh. Oleh penduduk dipercaya kadang-kadang dapat dijumpai bunyi seekor kuda yang lari dari belakang balai desa tempat Bromosari dimakamkan dengan bunyi gemerincing yang konon membawa pakaian perangnya.
Di desa Kupang dapat ditemui adanya batu gajah yang dipercaya sebagai tunggangan Ki Ajar Kupang. Selain itu juga ada batu ronggeng yang terletak di tepi sungai. Konon kabarnya dulu Ki Ajar Kupang nanggap ronggeng oleh anak buah Ki Ajar Kupang, ronggeng tadi digoda. Karena merasa terganggu dan tidak mau digoda ronggeng tadi melarikan diri, namun di tengah jalan berjumpa dengan Ki Ajar Kupang. Karena Ki Ajar Kupang merasa nanggap padahal pertunjukan belum selesai tetapi ronggeng tadi melarikan diri. Hal ini membuat Ki Ajar Kupang marah-marah dikutuklah ronggeng tadi menjadi batu.


DESA WATES

Banyu Werno : Pada waktu itu Baurekso sedang menyembunyikan Dewi Ratna Sari di sebuah hutan. Sewaktu Dewi Ratna Sari mau mencari sumber air, di situ ada sumber air yang berwarna-warni. Kemudian ia mengambil air tersebut untuk mencuci beras, namun setelah dicuci beras tersebut untuk mencuci beras. Namun setelah dicuci beras tersebut  sampai beberapa hari tidak masak. Karena tidak masak (menjadi nasi) beras tadi dibuang dan menjelma menjadi batu, dan batu tersebut diberi nama Batu Beras, setelah itu Dewi Ratna Sari melapokan kepada pangeran Baurekso akan kejadian tadi kemudian pangeran Baurekso mandi pada sumber air tadi dan mendapatkan daya kelebihan kesaktiannya berlipat, kemudian Baurekso berujar suatu saat nanti tempat itu diberi nama Banyu Werno. Setelah aman pangeran Baurekso pulang kembali ke Mataram.
Pungangan  : Alkisah ada kyai bernama Cermin waktu itu kebingungan mencari empu, guna membuat dua buah keris dan berjumpa dengan seorang yang sedang menyabit rumput, terhadap orang tersebut maksudnya diutarakan orang tersebut memerintahkan supaya mendekati wanggan/sumber mata air. Setelah dekat ternyata orang yang sedang menyabit tersebut adalah seorang wali dengan nama wali Supo. Akhirnya keris tersebut dibuat oleh wali Supo, kemudian diberi nama Pungangan, yang artinya empu di tepi wangan/saluran. Setelah keris diserahkan kepada kyai cermin, empu tadi hilang tidak tahu rimbanya.
Getas/Gebryur : waktu Ki Ajar Kupang sedang memperluas wilayahnya di wilayah Kupang, sampai sebelah barat hutan jati, dipanggil oleh ratu pantai selatan, setelah sampai di sana ada seorang perempuan/putri yang sedang termenung, terus ditanya oleh Ki Ajar Kupang mengapa duduk di situ, si perempuan dimarahi oleh ratu pantai selatan karena tidak punya pisau untuk mengiris-iris bumbu dapur. Kemudian oleh Ki Ajar Kupang ia diberi pisau, sambil diujar, nanti kalau sudah selesai mohon dikembalikan. Setelah itu Ki Ajar Kupang kembali ke Kupang guna memperluas wilayah. Kemudian setelah selesai anak putri tadi menyusul akan mengembalikan pisau tadi dengan diselipkan di perut, akhirya ketemu lagi dengan Ki Ajar Kupang. Kemudian ditanya oleh Ki Ajar Kupang di mana meletakkan pisau tadi. Si perempuan tadi mengatakan kalau pisaunya diselipkan di perut. Melihat itu Ki Ajar Kupang mengatakan kalau pisau tadi diselipkan di perut bisa hamil. Dan ternyata benar-benar perempuan tadi hamil, karena hamil dan tidak punya suami padahal ia putri modin karena bapaknya marah, kemudian ia diusir. Setelah cukup besar kandungannya bisa bicara, dan meminta kepada ibunya kalau nanti melahirkan jangan di hutan, tapi di atas batu besar di tepi sungai setelah lahir ternyata bayi tadi berwujud ular. Karena telah melahirkan dan tidak punya suami sedangkan nasibnya perlu dikasihani maka ia mendapat julukan si Rondo Kasihan. Kemudian si Rondo Kasihan menyepak ular tadi hingga jatuh ke dalam sungai (jatuh ngeguyur). Waktu itu Ki Ajar Kupang mengetahui dan tempat tersebut diberi nama Getan Gebyrur. Setelah melahirkan si Rondo Kasihan kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di desa Gebyrur. Kemudian setelah besar ular anak si Rondo Kasihan mencari Ki Ajar Kupang. Dalam pencarian itu ia melewati sebuah gunung dan gunung tersebut tugel/ putus terkena tubuhnya, maka kemudian tempat tersebut diberi nama Gunung Tugel.
Wates  : Dulu ada seorang kepala desa yang mempunyai istri, satu di Pungangan dan satu lagi di Getas Gebyrur, karena kesulitan untuk berkomunikasi, akhirnya kepala desa tadi bertempat tinggal di tengah-tengah antara Getas Gebyrur. Tempat tinggal kepala desa itu dinamakan Desa Watas, karena merupakan batas/watas antara Getas Gebyrur dan Pungangan.


DESA SIGAYAM

Tersebutlah kyai Gede Singosari yang merasa kalah lalu melarikan diri dan sampai pada sebuah hutan lebat. Namun ia tidak membuka hutan itu melainkan hanya beristirahat saja dan mengambil sebagian tempat saja yaitu disekitar pohon jati siroyom. Kemudian tempat itu dinamakan Losari mengambil nama belakang kyai Gede Singosari.
Pada suatu ketika datanglah dua orang suami istri yaitu kyai Sundoro dan kyai Sundari. Sesampai di daerah sekitar Losari mereka bermaksud untuk membuka hutan, tapi mungkin karena kewibawaan tempat tersebut dan kyai tersebut tidak dapat melawannya akhirnya kedua suami istri itu kembali naik ke hutan sebelah atasnya. Dan dari tempat itulah kemudian mereka kembali membuka hutan dan berhasil. Sebagai peringatan maka ditanamlah pohon gayam. Pohon tersebut tumbuh besar sampai berbuah dan kyai Sundoro sudah bisa melihat buahnya. Setelah cukup lama menetap di situ kyai Sundoro meninggal dunia, oleh penduduk dimakamkan di sebelah barat desa. Dan sebagai tanda penghormatan kepada orang yang telah berjasa membuat pemukiman penduduk, maka desa yang terbentuk itu diberi nama desa Sigayam. Mengambil dari nama pohon yang ditanam oleh kyai Sundoro sewaktu hidup. Akhirnya tempat tersebut menjadi ramai setelah penduduk banyak yang berdatangan dan ada pula yang membuka hutan lagi untuk memperluas wilayah desa Sigayam.


DESA SIWATU

Konon kabarnya ada dua orang suami istri yaitu kyai Selogati dan istrinya nyai Selogati. Kedua suami istri tersebut membuka hutan lebat yang akan dijadikan perkampungan. Ketika sedang membuka hutan mereka menemukan sebuah sumur yang penuh dengan batu. Oleh karena itu tempat tersebut untuk mudahnya diberi nama Sumur Watu yang kemudian lambat laun ejaanya berubah menjadi Siwatu. Lambat laun desa Siwatu berkembang menjadi sebuah desa yang ramai. Setelah cukup lama mengabdi pada desa Siwatu kyai Selogaati meninggal dunia. Oleh penduduk dimakamkan di sebelah timur desa Siwatu dan tempat makam itu disebut dengan Lemah Kesucian, konon kabarnya di sekitar wilayah tersebut tidak bolah dijadikan tempat pagelaran wayang kulit. Dan sampai sekarang pun penduduk tidak ada yang berani melanggar pantangan itu.
Selain itu di wilayah desa Siwatu juga dapat dijumpai sebuah dukuh dengan nama Sitotok. Konon kabarnya yang membuka daerah tersebut aalah kyai Kloneng. Sewaktu membuka hutan ia menemukan sebuah totok/tempurung kura-kura besar. Oleh karena itu tempat tersebut diberi nama Sitotok. Demikianlah akhirnya Sitotok berkembang menjadi desa yang ramai. Selain desa Sitotok juga ada Kepompongan. Di dukuh Kepompongan ini dapat dijumpai tempat yang bernama Kebutuh. Konon kabarnya tempat itu diberi nama Kebutuh karena pada suatu ketika pecah perang antara barat dan sebelah timur sungai. Sewaktu tentara dari sebelah barat mau menyerang timur tiba-tiba datanglah banjir besar sehingga penyerangan tidak diteruskan karena terhalang (dalam bahasa jawa kebutuh) banjir tadi. Dan konon kabarnya kuda beserta peralatan perang sang senopati dikubur di tempat itu karena tidak jadi mengadakan penyerangan. Demikian sebagai peringatan tempat tersebut diberi nama Kebutuh.


DESA DRINGO

Dulu ada seorang yang sakti bernama Sutojoyo. Karena kesaktiannya ia sanggup membuka hutan seorang diri. Begitulah dengan ketekunannya di hutan yang semula lebat bisa menjadi perkampungan yang ramai. Namun sayang perkampungan tersebut belum mempunyai nama. Hingga suatu ketika lewatlah seorang Adipati dari daerah Cirebon yang mau menghadap sang ratu di Mataram. Sewaktu lewat di tempat tersebut kudanya terantuk pada akar yang merintang, dan kuda beserta penunggangnya jatuh ke tanah dan kuda itu mati. Kuda yang malang tersebut oleh sang adipati diberi nama Dringo. Dan di tempat itu pula kuda tersebut dikubur. Dan sebagai pertanda bahwa tempat tersebut adalah tempat menguburkan kuda kesayangannya, sang adipati memberi nama tempat tersebut dengan nama desa Dringo.
Konon diceritakan bahwa di sebelah barat desa Dringo hidup seorang tua yang bernama mbah Engkuk. Mbah Engkuk mempunyai peliharaan seekor cacing yang sebesar kendang (besar namun panjangnya kira-kira satu meter). Adapun cacing tersebut hidupnya di rawa. Suatu hari mbah engkuk mengambil cacing tersebut, namun ketika sampai di darat cacing tersebut hilang entah kemana. Kemudian tempat tersebut oleh mbah Engkuk diberi nama dengan desa Rowocacing. Adapun rawa-rawa yang ada dapat dijumpai tiap musim hujan, namun pada musim kemarau air rawa tersebut tidak ada lagi.


DESA PENANGKAN

Dulu ada seorang prajurit yang bernama Joko Loyoyang melarikan diri dan bersembunyi di belik/sumber air Sinongko. Disebut Sinongko karena sumber air tersebut berada di bawah pohon nangka Wasi (nangka yang sudah tua dan besar sekali). Sewaktu duduk beristirahat ada buah yang masak dan jatuh ke tengah sumber air, dan oleh Joko Loyo diambil dengan maksud akan dipotong-potong untuk dimakan. Namun ketika pedang yang ia gunakan tidak berhasil memotong buah nangka dan jatuh bersama Joko Loyo ke dalam air sumber air tersebut. Tanpa didasari ternyata membuat Joko Loyo membuat sakit. Karena merasa sudah mampu, maka Joko Loyo membuka hutan seorang diri untuk dijadikan perkampungan. Olehnya kampung yang baru dibuka itu diberi nama dengan Penangkan, artinya tempat beradanya pohon nangka.
Konon diceritakan, pada suatu hari ada utusan dari Dracik yang mencari di mana sebetulnya tempat petilasan dari Joko Loyo. Dalam perjalanan mencari petilasan tersebut ia selalu mengambil tanah dan menciumnya untuk mengetahui petilasan Joko Loyo. Demikianlah hal itu dilakukan berulang-ulang hingga sampai di daeah Penangkan. Ketika mengambil tanah di situ dan menciumnya, ia merasa cocok bahwa di tempat itulah petilasan Joko Loyo berada. Kemudian sebagai pertanda bahwa itu merupakan tempat petilasan Joko Loyo ditanamlah pohon mangga. Dan sampai sekarang pohon mangga tersebut masih ada di atas petilasan Joko Loyo.
Di desa Penangkan ada suatu tempat yang namanya Siguo, konon kabarnya di tempat itu dulu ada seorang yang pertapa yang berasal dari Kesesi. Setelah bertapa tersebut pulang dan di desanya ia terpilih menjadi kepala desa. 50 meter ke bawah dari Siguo dapat dijumpai sebuah batu besar. Penduduk menyebutnya dengan nama batu Gedogan (kandang kuda). Konon kabarnya dari tempat itu kadang terdengar suara kuda yang sedang meninggalkan kandang (gedogan) oleh karena itulah batu itu dinamakan batu Gedogan. Dan oleh penduduk tiap malam jumat kliwon dalam bulam Suro diberikan sesaji berupa katul dan tetes. Dan 200 meter ke bawah lagi dapat dijumpai makam dari :
1.      Syeh Siti Jenar
2.      Syeh Jambu Karang
3.      Syeh Jambu
4.      Syeh Maulana.
Keempat orang tersebut berada dalam satu makam dan berada di bawah pohon mangga. Makam tersebut ditandai dengan sebuah batu yang oleh penduduk dinamakan batu Lumpang, karena bentuknya seperti Lumpang (tempat menumbuk padi). Konon kabarnya apabila batu tersebut disingkirkan pasti akan kembali lagi ke tempat semula dengan sendirinya.
Sedangkan pedukuhan yang lain adalah Wonoedi. Konon kabarnya yang membuka hutan tersebut adalah mbah Rasup. Dinamakan Wonoedi karena hutan di daerah tersebut itu indah (dalam bahasa jawa edi) kemudian hutan (wono) yang indah (edi) tersebut digunakan untuk memberi nama desa yang baru dibuka oleh mbah Rasup sebagai tanda bahwa di tempat tersebut semula hutannya indah. Di dukuh Wonoedi dapat dijumpai sebuah mata air yang oleh penduduk dipercaya berasal dari Bismo. Mata air tersebut dapat dijadikan tanda, yaitu kalau airnya berwarna putih akan ada penduduk yang meninggal dunia. Hal itu sampai sekarang masih bisa dijumpai dan penduduk mempercayainya.

SEJARAH DESA SEWATU KEC. WONOTUNGGAL KAB. BATANG


DESAKU SIWATU

Konon kabarnya ada dua orang suami istri yaitu kyai Selogati dan istrinya nyai Selogati. Kedua suami istri tersebut membuka hutan lebat yang akan dijadikan perkampungan. Ketika sedang membuka hutan mereka menemukan sebuah sumur yang penuh dengan batu. Oleh karena itu tempat tersebut untuk mudahnya diberi nama Sumur Watu yang kemudian lambat laun ejaanya berubah menjadi Siwatu. Lambat laun desa Siwatu berkembang menjadi sebuah desa yang ramai. Setelah cukup lama mengabdi pada desa Siwatu kyai Selogaati meninggal dunia. Oleh penduduk dimakamkan di sebelah timur desa Siwatu dan tempat makam itu disebut dengan Lemah Kesucian, konon kabarnya di sekitar wilayah tersebut tidak bolah dijadikan tempat pagelaran wayang kulit. Dan sampai sekarang pun penduduk tidak ada yang berani melanggar pantangan itu.
Selain itu di wilayah desa Siwatu juga dapat dijumpai sebuah dukuh dengan nama Sitotok. Konon kabarnya yang membuka daerah tersebut aalah kyai Kloneng. Sewaktu membuka hutan ia menemukan sebuah totok/tempurung kura-kura besar. Oleh karena itu tempat tersebut diberi nama Sitotok. Demikianlah akhirnya Sitotok berkembang menjadi desa yang ramai. Selain desa Sitotok juga ada Kepompongan. Di dukuh Kepompongan ini dapat dijumpai tempat yang bernama Kebutuh. Konon kabarnya tempat itu diberi nama Kebutuh karena pada suatu ketika pecah perang antara barat dan sebelah timur sungai. Sewaktu tentara dari sebelah barat mau menyerang timur tiba-tiba datanglah banjir besar sehingga penyerangan tidak diteruskan karena terhalang (dalam bahasa jawa kebutuh) banjir tadi. Dan konon kabarnya kuda beserta peralatan perang sang senopati dikubur di tempat itu karena tidak jadi mengadakan penyerangan. Demikian sebagai peringatan tempat tersebut diberi nama Kebutuh.

Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota/Kabupaten Batang Jawa Tengah (Jateng)



Daftar nama-nama Kelurahan / Desa dan Kecamatan beserta nomor kode pos (postcode / zip code) pada Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Republik Indonesia.
Negara : Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Provinsi : Jawa Tengah (Jateng)
Kota/Kabupaten : Batang

1. Kecamatan Bandar
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Bandar di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Bandar (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Batiombo (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Binangun (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Candi (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Kluwih (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Pesalakan (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Pucanggading (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Sidayu (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Simpar (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Tambahrejo (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Tombo (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Toso (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Tumbrep (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Wonodadi (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Wonokerto (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Wonomerto (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Wonosegoro (Kodepos : 51254)
2. Kecamatan Banyuputih
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banyuputih di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Banyuputih (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Dlimas (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Kalangsono (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Kalibalik (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Kedawung (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Luwung (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Sembung (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Banaran (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Bulu (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Penundan (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Timbang (Kodepos : 51281)
3. Kecamatan Batang
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Batang di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Proyonanggan Selatan (Kodepos : 51211)
- Kelurahan/Desa Proyonanggan Tengah (Kodepos : 51211)
- Kelurahan/Desa Proyonanggan Utara (Kodepos : 51211)
- Kelurahan/Desa Sambong (Kodepos : 51212)
- Kelurahan/Desa Kasepuhan (Kodepos : 51214)
- Kelurahan/Desa Kauman (Kodepos : 51215)
- Kelurahan/Desa Cepokokuning (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Denasri Kulon (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Denasri Wetan (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Kalipucang Kulon (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Kalipucang Wetan (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Kalisalak (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Karanganyar (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Karangasem Selatan (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Karangasem Utara (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Kecepak (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Klidang Lor (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Klidang Wetan (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Pasekaran (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Rowobelang (Kodepos : 51216)
- Kelurahan/Desa Watesalit (Kodepos : 51216)
4. Kecamatan Bawang
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Bawang di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Bawang (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Candigugur (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Candirejo (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Deles (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Getas (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Gunungsari (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Jambangan (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Jlamprang (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Kalirejo (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Kebaturan (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Pangempon (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Pasusukan (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Pranten (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Purbo (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Sangubanyu (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Sibebek (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Sidoharjo (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Soka (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Surjo (Kodepos : 51274)
- Kelurahan/Desa Wono Sari (Kodepos : 51274)
5. Kecamatan Blado
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Blado di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Bawang (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Besani (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Bismo (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Blado (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Cokro (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Gerlang (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Gondang (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Kalipancur (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Kalisari (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Kalitengah (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Kambangan (Kembangan) (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Kembanglangit (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Keputon (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Keteleng (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Pesantren (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Selopajang Barat (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Selopajang Timur (Kodepos : 51255)
- Kelurahan/Desa Wonobodro (Kodepos : 51255)
6. Kecamatan Gringsing
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Gringsing di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Gringsing (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Kebondalem (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Ketanggan (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Krengseng (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Kutosari (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Lebo (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Madugowongjati (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Mentosari (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Plelen (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Sawangan (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Sentul (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Sidorejo (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Surodadi (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Tedunan (Kodepos : 51281)
- Kelurahan/Desa Yosorejo (Kodepos : 51281)
7. Kecamatan Kandeman
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kandeman di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Bakalan (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Botolambat (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Cempereng (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Depok (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Juragan (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Kandeman (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Karanganom (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Karanggeneng (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Lawangaji (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Tegalsari (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Tragung (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Ujungnegoro (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Wonokerso (Kodepos : 51261)
8. Kecamatan Limpung
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Limpung di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Amongrogo (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Babadan (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Dlisen (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Donorejo (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Kalisalak (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Kepuh (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Limpung (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Lobang (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Ngaliyan (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Plumbon (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Pungangan (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Rowosari (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Sempu (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Sidomulyo (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Sukorejo (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Tembok (Kodepos : 51271)
- Kelurahan/Desa Wonokerto (Kodepos : 51271)
9. Kecamatan Pecalungan
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Pecalungan di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Bandung (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Gemuh (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Gombong (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Gumawang (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Keniten (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Pecalungan (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Pretek (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Randu (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Selokarto (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Siguci (Kodepos : 51262)
10. Kecamatan Reban
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Reban di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Adinuso (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Cablikan (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Kalisari (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Karanganyar (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Kepundung (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Kumesu (Kemesu) (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Mojotengah (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Ngadirejo (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Ngroto (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Pacet (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Padomasan (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Polodoro (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Reban (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Semampir (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Sojomerto (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Sukomangli (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Tambakboyo (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Wonorojo (Kodepos : 51273)
- Kelurahan/Desa Wonosobo (Kodepos : 51273)
11. Kecamatan Subah
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Subah di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Adinuso (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Clapar (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Durenombo (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Gondang (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Jatisari (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kalimanggis (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Karangtengah (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Keborangan (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kemiri Barat (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kemiri Timur (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kumejing (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kuripan (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Mangunharjo (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Menjangan (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Sengon (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Subah (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Tenggulangharjo (Kodepos : 51262)
12. Kecamatan Tersono
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Tersono di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Banteng (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Boja (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Gondo (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Harjowinangun Barat (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Harjowinangun Timur (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Kebumen (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Kranggan (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Margosono (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Plosowangi (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Pujut (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Rejosari Barat (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Rejosari Timur (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Satriyan (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Sendang (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Sidalang (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Sumurbanger (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Tanjungsari (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Tegalombo (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Tersono (Kodepos : 51272)
- Kelurahan/Desa Wanar (Kodepos : 51272)
13. Kecamatan Tulis
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Tulis di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Manggis (Kodepos : 51254)
- Kelurahan/Desa Beji (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Kaliboyo (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Kedungsegog (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Kenconorejo (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Ponowareng (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Posong (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Sembojo (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Simbangdesa (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Simbangjati (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Tulis (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Wringingintung (Kodepos : 51261)
- Kelurahan/Desa Cluwuk (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Jolosekti (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Jrakahpayung (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Kebumen (Kodepos : 51262)
- Kelurahan/Desa Siberuk (Kodepos : 51262)
14. Kecamatan Warungasem
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Warungasem di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Banjiran (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Candiareng (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Cepagan (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Gapuro (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Kalibeluk (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Kaliwareng (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Lebo (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Masin (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Menguneng (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Pandansari (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Pejambon (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Pesaren (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Sariglagah (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Sawahjoho (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Sidorejo (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Sijono (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Terban (Kodepos : 51252)
- Kelurahan/Desa Warungasem (Kodepos : 51252)
15. Kecamatan Wonotunggal
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Wonotunggal di Kota/Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) :
- Kelurahan/Desa Brayo (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Brokoh (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Dringo (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Gringgingsari (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Kedungmalang (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Kemligi (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Kreyo (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Penangkan (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Sendang (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Sigayam (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Silurah (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Siwatu (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Sodong (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Wates (Kodepos : 51253)
- Kelurahan/Desa Wonotunggal (Kodepos : 51253)


Untuk mencari postal code daerah anda, anda juga bisa dengan mesin pencari di bawah.
Sembunyikan keterangan ini
Untuk melihat tabel lengkap seluruh desa, kecamatan, kota, dsb beserta kode POS nya, silakan klik menu di tengah atas, sedangkan
Galeri FOTO masih diupdate. Bila mencari kode POS atau daerah (Desa, Kec, dsb), silakan ketik di bawah ini dan klik "telusuri".
Cari Kode POS atau Nama Daerah
2 Agustus 2012  
» Kelurahan/Desa : Siwatu
» di Kecamatan Wonotunggal - Kab. Batang
» di Provinsi Jawa Tengah
» Kode POS : 51253
Tampilkan data per halaman
Sembunyikan penjelasan ini
Untuk mengurutkan (sort) kode POS, nama desa, dsb, silakan klik judul kolom di bawah ini.
Untuk melihat lebih lengkap daerahnya, silakan klik data yang ada garis-bawahnya.
No. Kode POS
Desa, Kelurahan  
Kecamatan, Distrik  
DT2 Kota, Kabupaten  
Provinsi  
DT2
Kota, Kabupaten  
151253SiwatuWonotunggalKab.Batang Jawa Tengah


Halaman ke -»   1





NEWS

« »
« »
« »